Pemimpin Dunia Harus Memprioritaskan Kesetaraan

Friday 9 May 2014

Pemimpin Dunia Harus Memprioritaskan Kesetaraan

Laporan Baru Save the Children Menyajikan Jalur untuk Mengentaskan Kemiskinan dalam Sebuah Generasi

Ketika negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bertemu di New York untuk membentuk penerus dari Tujuan Pembangunan Milenium (MDG/Millennium Development Goal), hari ini Save the Children telah meluncurkan sebuah laporan baru yang mengusung peta jalan yang ambisius namun dapat diwujudkan untuk mengentaskan kemiskinan dalam sebuah generasi.

Laporan Save the Children “Framework for the Future menegaskan 12 tujuan dan sasaran global yang nyata untuk dapat mengentaskan kemiskinan – untuk selamanya. Dengan menitikberatkan pada manusia, planet dan proses-proses, laporan ini menyajikan sebuah visi untuk 2030 dimana setiap anak tidak hanya memiliki kesempatan untuk hidup, tapi juga berkembang.

Tahun 2014 merupakan tahun yang kritis bagi komunitas internasional untuk menentukan kerangka kerja pasca-2015. Sementara pemerintah tengah mendiskusikan dan membentuk isi dari tujuan pembangunan terbaru, mereka harus mengusung ambisi yang tinggi dengan membentuk landasan-landasan untuk sebuah kerangka kerja yang dapat menginspirasikan perubahan nyata dan berkelanjutan bagi negara termiskin dan anak-anak yang paling rentan.

Sekitar 85 juta anak di dunia terlibat dalam pekerjaan yang berbahaya, dan di Indonesia terdapat 2 juta lebih anak usia antara 7 – 15 tahun tidak bersekolah.

Kerangka kerja pasca-2015 wajib mengedepankan hak-hak setiap anak. Pemerintah harus berupaya lebih untuk membangun dari keberhasilan Tujuan Pembangunan Milenium (MDG/Millennium Development Goal) serta melindungi anak-anak yang kurang beruntung yang saat ini masih tersisihkan.

“Secara global, masih dibutuhkan upaya yang lebih keras lagi dalam pemenuhan MDG ke-4, yakni mengurangi dua per tiga angka kematian anak pada tahun 2015. Di Indonesia, 48,000 anak meninggal setiap tahunnya selama proses persalinan atau selama hari pertama pasca kelahiran,” ucap Ricardo Caivano, Direktur Save the Children di Indonesia. “Saat ini dibutuhkan dorongan yang intens untuk memaksimalkan kemajuan yang sudah tercapai sampai target waktu tersebut,” tambahnya.

Gagasan tujuan pembangunan berkelanjutan untuk pasca-2015 oleh Save the Children mengacu pada hasil konsultasi yang kami fasilitasi bersama anak-anak, konsultasi dengan pemimpin masyarakat sipil, dan pengalaman kami dalam menegakkan hak-hak anak di lebih dari 120 negara di dunia.

“Pemerintah Indonesia menyambut gagasan ini dan siap untuk terus bekerja dengan seluruh pemangku kepentingan termasuk pelaksana dari lembaga swadaya dalam membentuk agenda pembangunan pasca-2015 untuk mengentaskan kemiskinan, mewujudkan pertumbuhan berkelanjutan dengan kesetaraan, dan melindungi hak-hak setiap anak dengan pemerintahan yang baik dan terbuka.” kata Hasan Kleib, Direktur Jenderal Multilateral, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Tahun 2015 dapat menjadi tahun dimana pemerintah di seluruh dunia menyepakati batas waktu komitmen jangka panjang mereka untuk mengakhiri kemiskinan yang ekstrem, serta memastikan bahwa tidak anak yang meninggal karena penyebab yang dapat dicegah, setiap anak mendapatkan pendidikan yang berkualitas, dan setiap anak mendapatkan perlindungan dari kekerasan.

*****

Untuk informasi lebih jauh termasuk wawancara dengan narasumber dapat menghubungi Patricia Norimarna at patricia.norimarna@savethechildren.org

CATATAN UNTUK EDITOR:

Dunia ini telah menyaksikan kemajuan yang belum pernah terjadi dalam pengentasan kemiskinan selama 25 tahun terakhir. Jumlah anak dibawah usia lima tahun yang meninggal setiap tahun karena penyebab yang dapat dicegah telah menurun hampir setengahnya sejak tahun 1990. Lebih dari 2 milyar orang sekarang memiliki akses terhadap air bersih, dan hampir 50 juta anak bisa menikmati pendidikan dasar. Jumlah orang di seluruh dunia yang hidup dalam kemiskinan absolut berkurang setengahnya. Kita merupakan generasi yang dapat menyaksikan akhir dari kemiskinan yang ekstrem dalam segala bentuk, dan kita harus siap untuk melakukan segalanya dalam kemampuan kita untuk mewujudkan visi ini.

Pada tahun 2015, para pemimpin dunia akan bertemu di Rapat Majelis Umum PBB untuk menyepakati sebuah kerangka kerja baru yang berpotensi merubah arah dari pembangunan global; kerangka kerja yang dapat mengakhiri kemiskinan yang ekstrem dalam satu generasi. Kerangka kerja tersebut membutuhkan pernyataan pembuka yang menginspirasi, berani dan memiliki visi sebagai pemacu komitmen pemerintah seluruh dunia untuk meningkatkan upaya-upaya mereka mengedepankan pembangunan manusia yang berkelanjutan. Dalam laporan terbaru kami, “Framework for the Future”, kami memaparkan sebuah sketsa seperti apa bentuk pernyataannya – sebuah pembuka yang menekankan tujuan dan target kerangka kerja dimana para pemimpin dunia mempresentasikan visi mereka untuk masa depan dan garis besar langkah untuk mencapainya.

Pada tahun 2030, kita ingin hidup di dunia yang:

  • Kemiskinan akibat pendapatan ekstrem telah berakhir dan manfaat dari pertumbuhan ekonomi dirasakan oleh semua
  • Tidak ada manusia yang menderita karena kelaparan, dan setiap manusia mendapatkan keamanan pangan, gizi dan air
  • Tidak ada ibu, bayi baru lahir atau anak yang meninggal karena penyebab yang dapat dicegah dan setiap manusia memiliki akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas tanpa kesulitan biaya
  • Semua anak dan remaja memiliki akses yang memadai terhadap pendidikan dan mencapai hasil dari pembelajaran yang baik
  • Semua anak perempuan dan laki-laki hidup bebas dari kekerasan, terlindungi dari konflik dan bencana, dan hidup dalam lingkungan keluarga yang aman
  • Peran wanita dan anak perempuan yang kuat dan memiliki hak yang setara dengan pria dan anak laki-laki
  • Setiap orang  memiliki akses terhadap sumberdaya energi yang efisien dan rendah karbon
  • Semua masyarakat memiliki ketahanan terhadap bencana
  • Setiap orang dapat menikmati lingkungan yang berkelanjutan, sehat dan tangguh
  • Negara di dunia berhasil mencegah bahaya dan lebih tangguh menghadapi dampak dari perubahan iklim
  • Pemerintahan pada setiap tingkat lebih terbuka, inklusif dan bertanggung jawab
  • Kemitraan global yang kuat untuk mengedepankan pembangunan manusia yang berkelanjutan